Belajar atau Sekadar Menyelesaikan Tugas?

Oleh:

Salfa Hanifa Zahra Zaeni

Sekretaris Bidang Organisasi PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2025–2026

 

Pernahkah Anda melihat mahasiswa yang rela begadang demi menyelesaikan tugas, tetapi saat diminta menjelaskan isi tugasnya justru kebingungan? Fenomena ini bukanlah hal yang asing di dunia perkuliahan. Bagi sebagian mahasiswa, yang terpenting adalah tugas selesai dan dikumpulkan tepat waktu. Sayangnya, proses memahami materi sering kali menjadi hal yang terabaikan.

Kondisi tersebut juga terlihat saat presentasi di kelas. Tidak sedikit mahasiswa yang hanya membaca isi slide tanpa mampu menjelaskan kembali materi dengan bahasa mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa belajar belum sepenuhnya menjadi proses memahami, melainkan hanya sekadar memenuhi kewajiban akademik.

Menurut teori konstruktivisme yang dikemukakan Jean Piaget, belajar bukan sekadar menerima informasi dari dosen atau menghafalkan materi. Belajar merupakan proses aktif untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman, berpikir, dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Dengan kata lain, pemahaman akan terbentuk ketika mahasiswa benar-benar terlibat dalam proses belajar, bukan hanya saat mengerjakan tugas.

Di era digital, informasi memang semakin mudah diakses. Berbagai referensi tersedia hanya dalam hitungan detik, bahkan teknologi dapat membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat. Namun, kemudahan tersebut sering membuat mahasiswa lebih fokus mencari jawaban instan daripada memahami isi materi. Akibatnya, tugas selesai, tetapi pengetahuan yang diperoleh tidak bertahan lama.

Sudah saatnya mahasiswa mengubah cara pandang terhadap belajar. Nilai yang baik memang penting, tetapi pemahaman jauh lebih berharga karena akan menjadi bekal dalam menghadapi dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Belajar seharusnya tidak hanya menghasilkan tumpukan tugas yang selesai, tetapi juga melahirkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, tujuan kuliah bukan hanya memperoleh ijazah atau nilai tinggi, melainkan membentuk individu yang mampu terus belajar dan berkembang. Sebab, pengetahuan yang benar-benar dipahami akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar tugas yang selesai dikerjakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harmoni dalam Komunikasi Organisasi

Refleksi Seorang Pemimpin: Jatuh atau Tumbuh

Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Literasi: Menumbuhkan Budaya Belajar dan Membaca di Era Society 5.0 dalam Konteks IMM