Ekstraksi Sumber Daya Alam, Ekstraksi Tubuh Perempuan
Oleh:
Umar Hamid Nugroho
Ketua Umum PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2025–2026
Indonesia
merupakan negara yang “kaya”. Kaya akan budaya, kaya akan alam dan kaya akan
sumber daya mineral. Di banyak wilayah Indonesia, tambang, migas, dan
perkebunan besar selalu tersimpan dan terbudidayakan kehasilannya. Kekayaan ini
semua merupakan anugerah yang Tuhan beri dan menjadikan bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang besar. Namun, dibalik keindahan dan kemegahannya,
tersingkap perilaku kekerasan yang tak terbendung adanya. Ekstraksi sumber daya
alam ternyata berjalan sejajar dengan ekstraksi atas tubuh perempuan, merupakan
sebuah kenyataan yang jarang disorot, namun tersembunyi dibalik narasi
“pemerataan pembangunan.”
Di
banyak daerah Indonesia, khususnya daerah pegunungan dan lereng perbukitan,
suara-suara bising mulai menjadi suara yang paling seringkali terdengar di
setiap pagi. Dimana, kicauan burung dan desiran angin sejuk menemani
perempuan-perempuan ketika menyirami tumbuhan atau sekedar mengambil mata air
di sungai terdekat. Kini, kicauan dan desiran itu sudah tenggelam oleh kerasnya
dentuman peralatan industri dan pabrik-pabrik. Para perempuan itu sudah tahu
bahwa peralatan industri itu akan membawa petaka bagi diri mereka. Berbagai
alat tambang dan janji-janji manis Pembangunan mencoba melucuti pemikiran
mereka agar menyetujui dan merelakan atas apa yang sudah mereka tempati dan
miliki sejak lamanya.
Tempat
yang bertahun-tahun mereka tempati, tempat dimana mereka mencari kesejahteraan
dengan indahnya alam dan hijaunya rerumputan, kini hilang terpupus oleh
janji-janji manis itu. Mereka tahu bahwa cerita-cerita serupa di banyak tempat
membawa petaka bagi setiap penduduk khususnya para perempuan. Tanah yang
digusur, rumah penduduk yang dihancurkan, mata pencaharian yang tersingkirkan,
sungai yang mulai mengkeruh dan banyak laki-laki asing yang mulai berdatangan.
Mereka tahu bahwa kehidupan mereka selanjutnya akan jauh berbeda dari apa yang
mereka impikan selama ini.
Laki-laki
asing itu tidak menghiraukan keberadaan para perempuan. Banyak
pertemuan-pertemuan di balai desa misalnya hanya dihadiri oleh para pejabat
laki-laki, kepala desa dan investor asing. Perempuan hanya bisa duduk diam dan
termenung di luar, tanpa tahu maksud dan tujuan apa para investor asing itu
mendatangi tempat mereka tinggal. Tanah yang sekian lama mereka rawat,
tumbuh-tumbuhan yang sekian lama mereka jaga, mata pencaharian penduduk yang
mulai terkikis menjadi jaminan dalam hasil pertemuan itu. Ketika keputusan itu
sudah dibuat, para perempuan hanya bisa menerima kabar bahwa hutan akan
ditebang, tanah akan digusur dan sungai akan dibendung. Tidak ada ruang
penolakan yang bisa dilakukan sebagai sarana aspirasi mereka. Semuanya tertutup
rapat-rapat dan terbungkam secara nyata.
Ketika
seluruh peralatan berat dari industri-industri itu masuk, perlahan kehidupan
mulai berubah. Sungai yang dulu jernih tempat dimana para perempuan mencuci
sayur dan memandikan anak-anaknya serta pemasok kebutuhan air perlahan mulai
berubah warna menjadi keruh pekat. Bau logam tercium, dan ketika ikan-ikan
mulai mati, para ibu langsung bertanya-tanya, apakah air ini masih aman untuk
diminum? Namun apa yang bisa mereka perbuat? Sumur-sumur mulai mengering, dan
satu-satunya air yang tersisa hanyalah air yang sudah tercemar oleh limbah
tambang.
Di
sinilah ekstraksi mulai terbentuk. Bukan saja ekstraksi terhadap tanah,
melainkan juga ekstraksi terhadap tubuh perempuan. Tubuh-tubuh itu harus
bekerja ekstra untuk berjalan menyusuri berkilo-kilo meter dengan memikul beban
yang berat demi menggantikan akses yang dulu mereka dapatkan. Mereka bangun
lebih pagi, tidur lebih malam, dan ketakutan mulai tumbuh ketika mereka
melewati jalan tempat pekerja tambang berkumpul. Kehadiran banyaknya laki-laki
asing yang tidak dikenali membuat jantung mereka berdegup kencang dan merasa
bahwa hidup mereka sudah tidak lagi aman.
Beberapa
dari mereka bercerita diam-diam bahwa ketika pulang berkilo-kilo meter dari
mencari hasil pangan, terdapat perilaku-perilaku yang tidak mengenakan yang
mereka dapatkan. Suara siulan, panggilan, tatapan terhadap tubuh mereka yang
penuh dengan nafsu membuat mereka berjalan lebih kencang untuk sesampainya di
rumah. Ada remaja perempuan yang tidak lagi berani pulang sendirian karena
pernah digoda oleh pekerja yang tidak dikenal dan ada pula ibu rumah tangga
yang memilih memutar jauh hanya untuk menghindari melewati pos penjagaan
industri tersebut.
Ini
merupakan sebuah bentuk kekerasan yang tidak masuk dalam kategori laporan
perusahaan. Tidak ada catatan baku dan tidak ada data statistiknya. Namun,
perempuan merasakannya setiap hari. Tubuh mereka satu persatu dievaluasi oleh
segelintir tatapan laki-laki yang tidak dikenalnya, dilecehkan oleh
komentar-komentar yang tidak bermoral serta ancaman yang kian mulai gencar
adanya.
Namun
kekerasan terhadap tubuh perempuan bukanlah datang hanya dari luar saja,
melainkan juga dari tercemarnya keanekaragaman sumber daya alam. Limbah-limbah
logam mulai meresap ke dalam air yang mereka masak dan minum. Setelahnya,
banyak perempuan yang mulai merasakan sakit, sulit tidur bahkan mengalami
gangguan menstruasi yang tidak dialami sebelumnya. Para ibu hamil banyak yang
mengeluh bahwa janinnya bermasalah, karena sering tidak bergerak. Dokter yang
mulai berdatangan mengatakan bahwa para ibu hamil hanya mengalami stress ringan
dan kelelahan atas perubahan dan dinamika struktur lingkungan yang mereka
tempati, tanpa memperhatikan kualitas pangan dan air yang mereka konsumsi
sehari-hari.
Perempuan
tidak mengerti istilah seperti “merkuri”, “arsenik”, atau “logam berat”, tetapi
tubuh mereka merespon bahaya itu dengan cara yang hanya bisa dipahami melalui
rasa sakit. Kondisi dimana, anak-anak mulai batuk tanpa henti serta kulit
mereka yang gatal-gatal setelah mandi di sungai menjadi sebuah sinyal bagi
perempuan. Perempuan mulai melihat bahwa kerusakan alam berbanding lurus dengan
kerusakan pada tubuh anak dan tubuh mereka sendiri secara perlahan-lahan.
Beberapa
bulan kemudian, ketika Sebagian besar lingkungan di sekitar mereka sudah
berubah, dimana lahan desa sudah berubah menjadi lahan tambang, para perempuan
memutuskan untuk melawan dan memberontak. Mereka berkumpul di depan rumah
kepala desa, membawa baskom, panci, dan spatula. Mereka hanya bisa berteriak
menyuarakan hak-hak mereka. Hal ini menandai bahwa memang ruang hidup mereka sudah
tidak lagi aman dan sehat untuk ditempati. Lalu, aksi itu membuat banyak
apparat mulai berdatangan. Ada perempuan yang didorong, ditarik, bahkan diancam
akan dipenjara. Namun mereka tetap berteriak dan berjuang untuk tetap menjaga
ruang-ruang yang masih tersisa. Bagi mereka, mempertahankan tanah dan tempat
tinggal adalah bagian dari mempertahankan tubuh mereka sendiri.
Kini,
narasi seperti ini sudah banyak terjadi di berbagai daerah, mulai dari
Kalimantan sampai Sulawesi, dari Papua sampai Jawa. Dengan memiliki pola yang
sama, yaitu ketika sumber daya alam diekstraksi, tubuh perempuan ikut
diekstraksi. Ketika tanah dirampas, suara perempuan dibungkam. Ketika air
tercemar, kesehatan perempuan dirusak. Ketika pekerja laki-laki masuk, rasa
aman perempuan menghilang. Namun berlapis-lapis kekerasan banyak menimpa
mereka, perempuan adalah sosok yang paling gigih terhadap perlawanan.
Perlawanan dalam membela hak-hak kaum wanita dan memperjuangkan kebenaran. Mereka
membawa tradisi, pengetahuan, dan ikatan dengan alam yang tidak dimiliki oleh siapa
pun. Mereka mempertahankan hutan bukan hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi
sebagai sumber kehidupan yang mereka wariskan kepada setiap generasi
keturunannya.
Pada akhirnya, tubuh perempuan dan tubuh bumi adalah
dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika satu dihancurkan, yang lain ikut
terluka. Ketika satu diekstraksi, yang lain ikut kehilangan kehidupannya. Maka
menghentikan ekstraksi sumber daya alam yang merusak sama saja dengan
menghentikan ekstraksi pada tubuh perempuan. Perempuan telah lama menjadi penjaga bumi. Kini, giliran dunia yang
berusaha untuk menjaga perempuan. Karena tanpa perempuan, tidak akan ada lagi
kehidupan yang bisa dilanjutkan.
Komentar
Posting Komentar