Refleksi Seorang Pemimpin: Jatuh atau Tumbuh
Oleh:
Rahmawati Nurul Fadillah
Sekretaris Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA 2024-2025
Mengapa aku terpilih menjadi pemimpin? Apakah aku benar-benar layak? Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka percaya padaku, atau hanya karena tidak ada pilihan lain? Kepemimpinan bukan hanya sekadar gelar, bukan hanya sekadar jabatan yang bisa dibanggakan, tapi ini adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab itu terasa begitu berat di pundakku.
Terkadang aku merasa bersyukur ketika aku merasakan berat dari tanggung jawab itu. Itu tandanya dalam diriku tumbuh jiwa dan perasaan kepemilikan atas rasa tanggung jawab tersebut, dan itu pun tandanya aku sadar bahwa apa yang aku mulai juga harus aku selesaikan, bagaimana pun caranya.
Menjadi seorang pemimpin tak luput dari sebuah pengambilan keputusan, yang nantinya setiap keputusan yang kuambil bukan hanya akan berdampak padaku, tetapi juga pada mereka yang ada di sekitar ku. Jika aku salah, mereka yang harus menanggung akibatnya. Jika aku ragu, mereka juga yang akan kehilangan arah.
Aku ingin menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan, bukan hanya sekadar nama dalam daftar organisasi. Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa memastikan setiap langkahku benar dan tidak menyimpan luka pada setiap anggotanya. Mengapa begitu?
Aku melihat mereka, ada yang percaya, ada yang ragu, ada juga yang mungkin menunggu aku gagal. Aku tahu, tidak semua orang akan mendukungku. Dan itu wajar. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Jika aku ragu, maka yang lain akan semakin ragu. Jika aku takut, maka bagaimana mereka bisa berani?
Di balik ketidaksempurnaan ku dalam memimpin ternyata, masih ada tatapan-tatapan harapan yang selalu menunggu ku untuk terus bangkit, merekalah yang selalu menjadikan alasan ku untuk dapat terus bertahan menjadi seorang pemimpin. Tatapan itu memberikan ku jawaban bagaimana seorang pemimpin yang mereka inginkan. Pemimpin yang tangguh, pemimpin yang berani, pemimpin yang dapat dipercaya, yang selalu bisa menerima masukan dari anggotanya, dan yang terpenting adalah pemimpin yang peduli terhadap sesama.
Dari situ, aku berkaca bahwa aku harus belajar aku harus mendengar, aku harus melangkah, meskipun takut, meskipun ragu. Aku harus menjadi pemimpin yang mereka butuhkan, bukan hanya pemimpin yang mereka pilih. Kepemimpinan bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang bertahan, belajar, dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik bersama.
Namun, semakin lama aku berada di posisi ini, semakin aku menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengatur dan mengambil keputusan. Ada banyak hal yang harus kupelajari tentang komunikasi, tentang keberanian menghadapi kritik, serta tentang manusia dan memanusiakan. Aku tidak bisa selalu benar, dan aku harus menerima itu dengan lapang dada. Aku harus belajar dari kesalahan dan tidak takut untuk mengakui ketika aku salah.
Setiap pemimpin pasti pernah merasa ragu. Aku pun begitu. Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku bisa memenuhi ekspektasi mereka? Apakah aku cukup baik? Tapi aku tahu, jika aku terus terjebak dalam pertanyaan itu, aku tidak akan pernah maju. Aku harus percaya pada diriku sendiri sebelum orang lain bisa percaya padaku.
Aku mulai melihat bahwa kepemimpinan bukan tentang mengetahui semua jawaban, tetapi tentang bagaimana mencari solusi bersama. Aku tidak perlu menjadi yang paling pintar atau yang paling berpengalaman. Yang terpenting adalah aku bisa mendengarkan, memahami, dan mengambil keputusan yang terbaik, yang natinya dapat berdampak baik bagi semuanya.
Aku ingin menjadi pemimpin yang bisa memberikan inspirasi, yang bisa menjadi sandaran ketika anggota-anggotanya menghadapi kesulitan. Aku ingin mereka merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian, bahwa mereka memiliki seseorang yang siap mendukung dan memimpin mereka dengan hati, bukan hanya dengan kata-kata.
Jadi, mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan keraguan menguasai. Aku akan berjalan maju, sedikit demi sedikit, dan semoga, suatu hari nanti, aku bisa melihat ke belakang dan kemudian aku berkata, 'Aku telah melakukan yang terbaik.' Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.
Editor: Umar Hamid Nugroho, Dinda Asyiyah, Muhammad Farhani Akbar.
Komentar
Posting Komentar