Rumah yang Tak Pernah Pulang
Oleh:
Siti Istikomah
Ketua Bidang Kajian Pengembangan
dan Keilmuan PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2025–2026
Rumah itu tak pernah terbakar,
namun hangusnya terasa sampai ke dada.
Tak ada pecahan kaca,
tak ada pintu yang dibanting hingga roboh,
hanya luka-luka kecil yang datang bergiliran
dan memilih tinggal lebih lama daripada seharusnya.
Di sana, tawa selalu terdengar seperti tamu.
Datang sebentar, lalu pamit tanpa janji kembali.
Sementara itu, malam-malam sibuk menimbun rahasia,
kecurigaan tumbuh seperti lumut di dinding yang lembap,
dan kepercayaan perlahan lapuk seperti kayu yang
digerogoti dari dalam.
Aneh.
Dari luar, rumah itu masih disebut rumah.
Dari dalam, rasanya lebih mirip ruang tunggu
bagi sesuatu yang buruk untuk terjadi lagi.
Maka lahirlah kebiasaan-kebiasaan yang bahkan tak pernah
diminta dan tak bisa diduga kedatangannya,
mendengar langkah kaki dengan cemas,
menafsirkan nada bicara,
menghafal tanda-tanda kedatangan badai,
jauh sebelum hujan turun.
Dan ketika orang lain bercerita tentang rindu pulang,
yang tersisa hanya pertanyaan kecil,
yang sampai saat ini tak kunjung ditemukan jawabannya,
“bagaimana caranya merindukan tempat
yang seumur hidup terasa seperti sedang kehilangan
arah?”.
Komentar
Posting Komentar