Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik

Oleh :

Maya Yanisha, Laila Nur Jamilah, Nabila Amalia

Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

PK IMM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA


    Pada sistem pembelajaran, terdapat berbagai macam cara atau metode yang dapat diterapkan, salah satu diantaranya ialah metode bermain peran atau role playing. Metode ini diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik antara pengajar dan peserta didik, serta dapat meningkatkan minat belajar peserta didik.

    Wina Sanjaya (2010) mendefinisikan metode bermain peran atau role playing sebagai bentuk simulasi metode pembelajaran yang mendorong peserta didik agar mampu mengkreasikan peristiwa pada masa lalu, peristiwa-peristiwa aktual, maupun kejadian-kejadian yang akan muncul pada masa mendatang. Dengan demikian, peserta didik mampu meresapi atau merasakan langsung ketika menjalani perannya. Dalam memainkan perannya, imajinasi juga dilibatkan peserta didik sehingga memorial akan ditanamkan dengan lebih kuat dibandingkan dengan hanya menggunakan metode ceramah.

    Selain itu, ahli memaparkan beberapa indikator minat belajar, diantaranya yaitu :

  1. Ketertarikan Siswa. 

    Berkaitan dengan rasa tertarik mengikuti proses pembelajaran dengan kecenderungan merasa tertarik pada orang, kegiatan, benda atau pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

  2. Perasaan Senang. 

    Seorang siswa akan terus mempelajari ilmu yang disenanginya karena memiliki perasaan senang atau suka terhadap mata pelajaran, sehingga tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari pelajaran tersebut.

  3. Keterlibatan Siswa. 

    Adanya rasa tertarik seseorang terhadap suatu hal mengakibatkan seseorang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan kegiatan dari hal tersebut.

  4. Perhatian Siswa. 

    Perhatian ialah konsentrasi atau aktivitas jiwa terhadap pengertian dan pengamatan, dengan mengesampingkan hal lain dari pada itu. Siswa yang mempunyai minat pada hal tertentu maka dengan sendirinya akan memperhatikan hal tersebut.

    Kelebihan metode bermain peran (role playing) menurut Djamarah (2010), diantaranya ialah sebagai berikut :

  1. Peserta didik menjadi terlatih untuk kreatif dan inisiatif
  2. Peserta didik mampu melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi atau bahan yang akan didramakan
  3. Melatih antar pemeran untuk bekerja sama, sehingga dapat dibina dan ditumbuhkan dengan sebaik-baiknya
  4. Dapat  memupuk bakat di dalam diri peserta didik dalam bermain peran, sehingga memungkinkan berkembangnya seni drama di sekolah
  5. Peserta didik memiliki kebiasaan untuk berbagi dan menerima tanggung jawab dengan sesama
  6. Bahasa lisan peserta didik dapat dilatih atau dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami oleh orang lain
  7. Membutuhkan waktu yang panjang baik untuk persiapan dalam pemahaman isi bahan pelajaran maupun pelaksanaan pertunjukan, dengan kata lain waktu pembelajaran yang sangat terbatas
  8. Tidak semua peserta didik dapat terlibat dan mempunyai pengalaman dalam bermain drama, sehingga dikhawatirkan menjadi kurang kreatif
  9. Dapat mengganggu kelas lain karena suara pemain dan para penonton yang bertepuk tangan ataupun berteriak untuk memberi apresiasi, dukungan, dan lain sebagainya
  10. Memerlukan tempat yang memadai dan cukup luas, sedangkan ukuran ruang kelas relative kecil sehingga menjadi kurang bebas dan kurang leluasa 
  11. Persiapan atau Pemanasan

    Disamping itu, metode bermain peran (role playing) juga memiliki beberapa kelemahan yang dipaparkan oleh Djamarah (2010), diantaranya yaitu :

  1. Membutuhkan waktu yang panjang baik untuk persiapan dalam pemahaman isi bahan pelajaran maupun pelaksanaan pertunjukan, dengan kata lain waktu pembelajaran yang sangat terbatas
  2. Tidak semua peserta didik dapat terlibat dan mempunyai pengalaman dalam bermain drama, sehingga dikhawatirkan menjadi kurang kreatif
  3. Dapat mengganggu kelas lain karena suara pemain dan para penonton yang bertepuk tangan ataupun berteriak untuk memberi apresiasi, dukungan, dan lain sebagainya
  4. Memerlukan tempat yang memadai dan cukup luas, sedangkan ukuran ruang kelas relative kecil sehingga menjadi kurang bebas dan kurang leluasa 

    Langkah-langkah dalam menerapkan sistem pembelajaran menurut Uno, (2012) ialah sebagai berikut:

  1. Persiapan atau Pemanasan
    Bermain peran diawali dengan persiapan pengajar untuk memperkenalkan sebuah kasus kepada peserta didik yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Kasus yang diberikan dapat muncul dari imajinasi peserta didik atau sudah dipersiapkan oleh pengajar.
  2. Memilih Pemain atau Pemeran Drama
    Peserta didik dan pengajar dapat bermusyawarah untuk memilih siapa saja yang akan menjadi pemeran dalam drama. Pengajar dapat memilih peserta didik yang sesuai guna memainkan peran yang dibutuhkan, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik yang berminat untuk mengajukan dirinya sendiri.
  3. Mendekorasi Panggung (Ruang Kelas)
    Setelah semua pemain terpilih, pengajar dapat melibatkan peserta didik lain untuk mendekor kelas menjadi sebuah panggung pertunjukan. Hal tersebut sangat berguna untuk mengajarkan kerja sama kepada peserta didik.
  4. Menunjuk Peserta Didik Menjadi Pengamat atau Observer
    Selain pemeran, pengajar harus menunjuk peserta didik sebagai pengamat kegiatan.
  5. Memainkan Peran 
    Bermain peran atau role playing berlangsung secara spontan. Pada awalnya mungkin banyak peserta didik yang mengalami kebingungan dalam bermain peran atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya dilakukan. Selain itu, juga tidak menutup kemungkinan ada yang memainkan peran yang bukan perannya.
  6. Diskusi dan Evaluasi
    Ketika terdapat hal yang menyimpang kemudian pengajar menghentikan drama, ajaklah peserta didik untuk duduk bersama dan mendiskusikan permainan yang sudah dilakukan. Setelah itu, ajak mereka untuk melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan.
  7. Mengulang Bermain Peran
    Setelah berdiskusi dan mengevaluasi, peserta didik dapat kembali melakukan kegiatan role playing. Biasanya kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dari sebelumnya karena peserta didik elah memiliki gambaran yang lebih jelas. 
  8.  Diskusi dan Evaluasi
    Melakukan diskusi dan evaluasi yang kedua, dimana pengajar mengarahkan peserta didik pada realita atau kehidupan yang nyata. Pengajar mengajak peserta didik untuk membandingkan bagaimana hal-hal yang terjadi di dalam alur cerita yang diperankan teman-temannya terjadi di dunia nyata.
  9. Berbagi pengalaman dan menyimpulkan
    Setelah para peserta didik membandingkan cerita dengan realita, pengajar mengajak peserta didik untuk berbagi pengalamannya yang berhubungan dengan tema role play yang telah dilakukan, dan setelah itu peserta didik akan membuat kesimpulan.

    Dengan demikian, metode role playing atau bermain peran merupakan metode pembelajaran yang mana penerapannya menuntut para peserta didik agar turut aktif atau ikut serta dalam memerankan suatu materi pelajaran secara bersama-sama. Selain itu, dengan adanya metode ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa ketertarikan untuk mengikuti pelajaran dan meningkatkan minat belajar mereka, sehingga perhatian peserta didik dapat memecahkan suatu masalah dalam kehidupan nyata yang diperoleh berdasarkan pengalamannya dalam memerankan tokoh tertentu di dalam suatu drama.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harmoni dalam Komunikasi Organisasi

GEMALI

Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Literasi: Menumbuhkan Budaya Belajar dan Membaca di Era Society 5.0 dalam Konteks IMM