GEMALI
Oleh:
Khoirul Anam
Ketua Umum PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA 2024-2025
Sudah lebih dari seminggu pascabanjir yang melanda wilayah Batavia dan sekitarnya, bantuan dari berbagai penjuru terus berdatangan, mulai dari uang tunai, mi instan, hingga pakaian bekas, atau bila diperhalus mungkin bisa dikatakan sebagai pakaian yang “katanya” masih layak pakai itu terus menumpuk di posko pengungsian warga. Bantuan tersebut tentunya hadir dengan niat baik pemberi bantuan, namun rasanya tumpukan mi instan dan pakaian “layak pakai” tersebut justru malah menimbulkan masalah baru.
Seperti misalnya mi instan, untuk dua atau tiga hari pertama, bantuan tersebut sangat bermanfaat dalam keadaan darurat, namun sayangnya mi instan bukanlah makanan yang baik untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Masalah lainnya tentu saja bantuan berupa pakaian ‘layak pakai’ tadi, semua orang terus-menerus mengirimkan pakaian-pakaian tersebut yang membuatnya kian hari kian menumpuk.
“Rayyan, ini kata pak Abraham bantuan mi instan sama pakaian bekasnya sudah menumpuk di posko” ucap Nisa setelah berkomunikasi dengan pak Abaraham yang merupakan koordinator pengumpulan bantuan di posko.
Nisa memiliki tugas untuk menjadi humas yang berkomunikasi kepada pihak posko pengungsian yang terdampak banjir di Batavia.
“Terus gimana? Kita udah terlanjur ngumpulin bantuan ini, mayoritas isinya pakaian bekas sama mi instan” balas Rayyan.
Nisa bingung harus menjawab apa, suasana hening sejenak “Coba tanya ke pihak posko butuh bantuan berupa apa untuk sekarang?” Rayyan melanjutkan.
“Mereka bilang untuk saat ini lebih butuh bantuan berupa real food, atau kalau tidak memungkinkan, bisa kirim bantuan berupa uangnya saja” Nisa menimpali.
Rayyan kemudian menatap seluruh tumpukan pakaian “layak pakai” yang ada di teras markas GEMALI (Gerakan Mahasiswa Peduli). Selain itu, menumpuk juga banyak mi instan. Mereka dilema keputusan apa yang harus mereka ambil. Apabila dipaksakan untuk mengirim bantuan tersebut, maka akan membuatnya semakin menumpuk di posko pengungsian, tapi kalau tidak dikirim, harus diapakan semua bantuan ini? Bantuan yang terkumpul dalam bentuk uang pun hasilnya tidak seberapa.
“Coba minta pendapat ketua, siapa tau Rianty bisa ngasih solusi” Nisa mencoba memberikan pendapatnya
“Halah, dia mana paham, paling dia kalau ditanya juga kebingungan sendiri, ujung-ujungnya suruh kita yang cari solusi” jawab Rayyan ketus.
“Iya sih, mana dia juga masih baru jadi ketua, belum punya pengalaman apa-apa, dia aja kepilih karena ga ada calon lain yang mau jadi ketua.” Nisa menambahkan.
“Iya, kan! Percuma pasti nanya dia juga” Rayyan menyetujui ucapan Nisa.
“Tapi ini kita juga ga tau harus gimana” ucap Nisa dengan wajah yang kebingungan.
“Yaudahlah kirim aja, mereka juga ga bakal nolak kali, kalo sampe nolak mah shombong amat” Rayyan mulai putus asa.
“Yeuu, jangan lah kocak, yang ada makin numpuk nanti di sana, trus malah jadi mubazir juga nanti” Nisa menjawab dengan nada yang lebih tenang.
“Tapi ini mau digimanain, Nis?”
“Ya ga tau juga aku. Yaudahlah coba nanya Riri (panggilan Rianty) aja, walaupun percuma juga si, tapi biarin aja biar dia ikut mikir juga”
“Yaudah kamu aja Nis yang manggil, aku udah skeptis kalo sama Riri”
“Ya Allah cuman suruh manggil doang aja ga mau, yaudah bentar aku panggil dulu”
Nisa pun pergi memanggil Riri yang sedang sibuk membaca buku di perpustakaan. Tak berselang lama kemudian, Nisa kembali bersama Riri ke teras sekret Gemali. Nisa dan Rayyan pun menjelaskan semua permasalahan hidup mereka, mulai dari masalah keluarga, percintaan, keuangan dan sebagainya.
“STOPPP!” Seru Riri, “Langsung ke intinya aja, jangan semua masalah kalian ceritain”
“Hehehe maaf kebablasan” ucap Rayyan meminta maaf.
Rayyan dan Nisa tidak lagi menjelaskan semua masalah mereka, tapi mereka fokus menjelaskan permasalahan yang terjadi saat itu.
“Oh, i see.” Riri mengangguk seolah paham terhadap apa yang sedang mereka hadapi.
Riri lalu mencari tempat duduk dan mulai ikut berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Sementara itu Rayyan duduk di sebelah Nisa, mereka berdua hanya menunggu jawaban seperti apa yang akan diucapkan oleh Riri.
“Tuhkan, pasti percuma nanya ke Riri” bisik Rayyan ke sebelah kanan.
“Apaan sih, Ray. Aku di sebelah kiri kamu” ucap Nisa ketus.
“Eh, salah hehehe kirain kamu di sebelah kanan aku”
“Mata dipake makanya! Tadi ngomong apa?”
“Tuhkan, pasti percuma nanya ke Riri” bisik Rayyan ke sebelah kiri.
“Iya juga sih, tapi yaudahlah yang penting dia ikut mikir, walaupun ga tau dah dia beneran mikir atau cuma bengong”
“AKU PUNYA IDE!” seru Rianty sambil beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Nisa dan Rayyan.
“Apa Ri?” balas Rayyan dengan nada lesu, karena yakin pasti ide Riri tidak akan terpakai.
“Gini, tadi tuh permasalahannya kan kita udah terlanjur ngumpulin donasi pakaian layak pakai dan mi instan, sementara kata pak Abraham, bantuan mi instan dan pakaian itu sudah menumpuk di sana. Ditambah lagi kebutuhan di posko lebih ke arah makanan real food atau bantuan berupa uang tunai kan?” Riri mencoba memastikan.
“Iya, trus apa solusinya?” tanya Rayyan.
“Gimana kalau kita mengadakan bazzar di alun-alun? Kebetulan kan besok hari Sabtu, pasti banyak orang yang beraktifitas di alun-alun baik paginya ataupun malamnya. Nantinya bazzar itu kita isi dengan penjualan pakaian bekas dan mi instan ini dengan harga yang di bawah harga pasaran.” Riri menjelaskan idenya.
“Mana bisa gitu? Rudi gong!” jawab Rayyan.
“Rugi dong, Ray” Nisa membetulkan.
“Iya itu, maksudnya. Lagian coba tuh liat bajunya masih banyak yang masih bagus, kalo dijual murah mah keenakan yang beli dapet baju bagus harganya murah”
“Ya, gapapa dong. Justru itu malah win-win solution. Kenapa? Karena nantinya masyarakat sekitar dapat pakaian yang masih bagus dengan harga murah, kita pun bisa mendapatkan fresh money yang nantinya bisa kita belikan real food atau bisa langsung kita kasih berupa uang aja langsung.” balas Riri.
“Nanti, kalau memang bazar ini betul-betul kita lakukan, kita bisa kasih penjelasan ke warga kalau hasil penjualan ini akan disalurkan untuk masyarakat yang terdampak banjir di Batavia. Atau kalau kalian ada ide lain, coba sampaikan? Siapa tau ide kalian bisa lebih baik dari punya ku” Riri melanjutkan.
“Jujur aku udah buntu Ri” kata Nisa.
“Kalau aku sih mending kasih apa adanya aja, kirim aja semua bantuan yang ada sekarang, mereka juga ga bakal nolak juga kan” Rayyan menimpali. Sebetulnya, Rayyan setuju dengan ide Rianty, namun karena ia sudah terlanjur malu, akhirnya ia memaksakan idenya tersebut.
“Yaudah, gimana kalau kita vote aja?” Riri menambahkan.
Rayyan dan Nisa mengangguk, tanda kalau mereka menyetujui usulan vote yang Riri tawarkan.
“Aku sih jelas ya make ideku sendiri” ucap Rayyan.
“Aku pun sama, aku vote dengan ide ku sendiri” Rianty memberikan jawaban
“Berarti sekarang keputusannya ada di kamu, Nis. Kamu milih aku atau Riri?”
“Nanyanya jangan begitu dong Ray. Ini bukan soal pilihan antara aku sama kamu, tapi ini soal keputusan apa yang mau kita ambil untuk bantuan ini” Riri menimpali
“Iye ah bawel” balas Rayyan dengan wajah masam
“Maaf ya Ray, untuk kali ini aku setuju sama pendapatnya Rianty” Nisa menjawab dengan perasaan yang tidak enak kepada Rayyan.
“Yaudah berarti sepakat yaa, kita adakan bazar untuk menjual semua pakaian dan mi instan ini di alun-alun. Kita mulai dari pagi aja besok setelah salat Subuh. Pasti banyak kan yang lari pagi. Kalau masih ada sisanya, kita lanjutkan di malamnya”
“Yaudah kalo gitu, trus sekarang apa aja yang harus kita lakuin, Ri?” Nisa bertanya
“Sekarang kita sortir dulu aja semua pakaiannya jadi tiga kategori. Kategori pertama itu pakaian yang masih bagus, kategori kedua pakaian yang masih oke tapi di bawah kategori bagus, lalu kategori ketiga itu pakaian yang terlihat kurang layak. Nantinya pakaian kategori pertama kita jual seharga Rp15.000, kategori kedua Rp10.000, dan kategori ketiga Rp5.000. Tapi nantinya kalo ada pakaian yang sekiranya kualitasnya itu lebih bagus dari kategori bagus, itu bisa kita masukin di kategori S dengan harga Rp20.000. Kalau untuk mi instan nya kan di warung-warung itu dijual harganya sekitar Rp3.000-an. mungkin nanti kita bisa jual dengan harga Rp2.000/pcsnya. Gimana? Setuju?”
“Iya deh setuju” jawab Rayyan yang masih belum bisa nerima idenya Riri
“Kalau kamu gimana, Nis?” Tanya Riri
“Aku punya pertanyaan, Ri. Kalau kita sendiri yang beli boleh ga?”
“Baiknya sih jangan ya, biar masyarakat sekitar aja yang merasakan manfaatnya”
“Oke deh Ri kalau gitu”
Hari pun berganti, Rianty bersama dengan Nisa dan Rayyan sudah mulai menyiapkan bazar sejak selesai salat subuh, bazar yang sudah mereka rencanakan sejak kemarin. Terdapat banyak kekhawatiran dalam pikiran mereka. Pertama, mereka khawatir banyak warga yang tidak mau membeli pakaian dan mi instan tersebut dan kekhawatiran yang kedua adalah uang yang dihasilkan dari penjualan tersebut tidak terlalu banyak.
Satu persatu, warga mulai beraktifitas di alun-alun. Ada yang lari pagi, berburu kuliner, atau hanya sekadar berswafoto untuk kebutuhan insta story. Satu persatu dari masyarakat tersebut juga melewati stand bazar milik Gemali. Mereka bertiga terus menawarkan jualannya, Rayyan terlihat paling bersemangat di antara mereka bertiga, namun sayangnya pembeli tidak kunjung ada yang datang. Butuh waktu tiga puluh menit untuk akhirnya ada pembeli yang datang menghampiri. Seperti keran yang dibuka tuasnya, pembeli pertama tadi seperti pemantik yang mendatang pembeli-pembeli selanjutnya.
Tidak disangka-sangka, dagangan mereka habis terjual pada pukul 08.00, dan yang lebih membahagiakannya lagi adalah uang hasil penjualnnya bisa melebihi dari apa yang mereka ekspektasikan. Karena banyak juga di antara masyarakat tersebut yang membeli sekaligus berdonasi. Harga pakaian yang tadinya hanya Rp15.000 justru malah dilebihkan menjadi Rp20.000 sampai Rp50.000. Bahkan, beberapa di antara masyarakat justru hanya memilih berdonasi tanpa mengambil pakaian maupun mi instan tersebut. Ketiga remaja ini pun pulang dengan hati yang gembira.
Keesokan harinya, mereka bertiga berangkat ke Batavia dengan membawa seluruh hasil penjualannya ditambah dengan uang donasi yang sebelumnya sudah terkumpul. Mereka memutuskan untuk membelanjakan uangnya sesuai dengan kebutuhan lalu menyalurkan langsung melalui pak Abraham yang sudah menanti mereka di posko pengungsian.
Editor: Cantika Ratna Pratiwi, Umar Hamid Nugroho, Dinda Asyiyah, Muhammad Farhani Akbar
Komentar
Posting Komentar