Perilaku Manusia Persepktif Psikologi Sebagai Upaya Membumikan Tauhid Sosial Di Tengah Pandemi Covid 19

Perilaku Manusia Persepktif Psikologi Sebagai Upaya Membumikan Tauhid Sosial Di Tengah Pandemi Covid 19

Sejak awal proses penciptaannya manusia memilki fitrah untuk terus beribadah kepada Allah SWT. Fitrah tersebut juga telah dijabarkan dalam Al-Qur’an surah Az-Zariyat ayat 56 yang berbunyi “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”, dalam ayat tersebut juga sangat jelas bahwa fitrah luhur manusia yakni beribadah hanya kepada Nya. Esensi beribadah tersebut merupakan bentuk keimanan kita terhadap Allah SWT, hal ini juga akan merujuk kepada tauhid yang mana telah sama-sama kita ketahui bahwa tauhid memiliki arti mengesakan (mengesakan Allah-Tauhidullah) baik dalam zat, asma’ was-shiffaat (nama dan sifat yang menunjuk pada ke-Mahasempurnaan Nya), maupun af’al (perbuatannya). Makna tauhid tidak hanya bersentral pada ibadah saja namun juga memiliki hubungan yang erat dalam dunia sosial. Tauhid sosial dilatarbelakangi oleh landasan pokok pemikiran pendiri Muhammadiyah yakni, KH Ahmad Dahlan pemikirannya mengenai tauhid sosial didasari pada Al-Qur’an Surah Al-Maun. Dalam surat Al-Maun telah di paparkan dengan sangat jelas bahwa menghardik anak yatim, tidak memberikan bantuan pada orang miskin maka mereka lah yang disebut sebagai pendusta agama. KH Ahmad Dahlan berpendapat bahwa ibadah saja tidak cukup untuk membangun amal/perbuatan sosial. Kerangka pemikiran Surat Al-Maun jugalah yang mendasari terbentuknya organisasi Muhammadiyah. Pada catatan sejarah Muhammadiyah terbentuk juga berdasarkan 4 (empat) macam penyakit yang meluas di kalangan masyarakat, penyakit ini meliputi ; kerusakan dalam bidang kepercayaan, kebekuan dalam bidang hukum fiqih, kemunduran dalam bidang pendidikan, dan kemiskinan rakyat serta hilangnya rasa gotong royong (Gunawan, 2018).
Pemikiran KH Ahmad Dahlan bisa di ibaratkan seperti tombak dan perisai, dimana tombak apabila dilihat dari luarnya akan nampak kokoh dan sangat kuat dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, sementara perisai ialah bentuk perlindungan hak segenap masyarakat dalam upaya mendapatkan kesetaraan sosial. Pedoman utama dari konsep pemikiran dalam surat Al-Maun adalah keadilan sosial, karena pada saat itu fenomena yang sering muncul adalah pengekpolitasi manusia atas manusia yang memunculkan pandangan yang rendah bagi kaum miskin padahal bila di teliti dari perspektif tauhid, hal itu merupakan bentuk pengingkaran terhadap persamaan derajat di mata Allah SWT (Gunawan, dkk, 2018). Dari surah Al-Maun juga diperoleh sebuah makna bahwa tauhid merupakan gerakan nyata dalam bidang sosial kemasyarakatan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut juga berkesinambungan/sejalan dengan visi misi Muhammadiyah untuk menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa akan membutuhkan bantuan dari manusia yang lainnya, hal ini juga membuktikan bahwa manusia akan hidup berkelompok dan tidak bisa hidup sendiri. Bukti konkret manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain ini sudah ada sejak manusia lahir, seorang bayi tidak bisa makan dan minum sendiri, ia pasti akan membutuhkan ibu nya untuk menyuapinya. Berpedoman pada hal tersebutlah manusia akan selalu saling berketergantungan satu sama lain. Dalam pemikiran tauhid sosial KH Ahmad Dahlan yang berorientasi pada surat Al-Maun bahwa salah satu upaya yang diperlukan untuk kembali membumikan tauhid adalah membantu sesama manusia yang membutuhkan sehingga tidak akan tercipta sebuah jarak yang signifikan antara si kaya dengan si miskin. Dalam perspektif psikologi perilaku ini disebut sebagai perilaku altruism. Menurut David dan Myres (Isnaeni, 2018) berpendapat bahwa orang yang altruis yaitu orang yang peduli untuk menolong orang lain walau tidak ada keuntungan yang diperoleh dan tidak mengharap imbalan atas pertolongan yang dilakukan. Pendapat lain juga dikemukakan oleh Sears, Jonathan dan Anne (Isnaeni, 2018) bahwa altruism merupakan tindakan secara sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharap suatu imbalan apapun. Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perilaku altruisme keinginan untuk menolong orang lain walaupun orang yang menolong tersebut harus mengeluarkan biaya atau pengorbanan.
Altruisme ini merupakan keinginan yang tulus dan ikhlas dalam menolong orang lain, orang altruis juga memiliki hati (qolb) yang lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya karena ia akan merasa sangat puas ketika ia mampu untuk memberikan bantuan pada orang lain. Pemuasan keinginan qolb tersebut juga ia implementasikan dalam wujud nyata sehingga tergeraklah tubuhnya untuk sigap secara bahu- membahu dalam membantu orang lain. Altruis sendiri sebenarnya diperoleh dari hasil belajar individu, kita sama-sama tidak bisa memungkiri bahwa kita semua adalah pelaku pembelajar sepanjang hidup atau “long life long learner”, apapun bisa menjadi pembelajaran dalam kehidupan ini tak terkecuali perilaku tolong-menolong, prososial sampai dengan altruism. Perilaku tersebut didorong oleh teori belajar sosial yang dicontohkan oleh beberapa model pelaku prososial sehingga mampu menambah kepedulian kita akan orang lain yang sedang dalam kondisi payah atau lemah. Kaitannya dalam perkembang psikologi Islam kontemporer menurut Subhan El-Hafidz (El-Hafiz, 2016) berpendapat bahwa dalam proses pembentukan manusia terdapat unsur-unsur yang saling berinteraksi dalam diri, kemudian unsur tersebut lah yang akan membentuk perilaku seseorang. Unsur-unsur itu terbagi menjadi 4 (empat) yakni aql, nafs, qolb, dan ruh. Dalam hal ini ruh tidak dapat dipelajari lebih dalam karena sifatnya yang gaib. Unsur fisik aql adalah otak dan salah satu aktifitasnya adalah berpikir, qolb adalah jantung dan salah satu aktifitasnya adalah emosi dan nafs adalah tubuh dan salah satu aktifitasnya adalah berperilaku (El-Hafidz, 2016).
Ketiga unsur tersebut saling berinteraksi yang membentuk perilaku manusia, namun demikian perilaku manusia bukan hal yang terpisah dari unsur manusia tersebut. Perilaku adalah hasil dari sistem nafs yang merupakan aspek dari diri manusia dan saling mempengaruhi dengan unsur didalamnya. Dengan demikian qolb dan aql berinteraksi satu sama lain, termaksud nafs yang kemudian interaksinya akan terlihat pada nafs dalam bentuk perilaku (El-Hafiz, 2016). Lalu adakah kaitannya antara altruis dengan ketiga unsur tersebut? Dan apakah bisa dikaitkan dengan pandemic covid 19? Tentu bisa, namun sebelum membahasnya lebih mendalam kita perlu simak beberapa informasi sekilas mengenai covid 19. Virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernafasan. Virus corona ini menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernafasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Virus ini menyerang semua kalangan usia dari bayi hingga lansia. Virus corona pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tanggal 2 maret 2020. Telah banyak lika-liku perjalanan wabah ini di Indonesia. Wabah ini pula mempengaruhi seluruh sektor dari pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan hukum turut menjadi sorotan banyak pihak. Covid 19 ini merupakan ancaman non militer yang menyerang Negara-Negara diberbagai dunia. Mulai dari Negara maju hingga berkembang pun tak lepas dari wabah ini, tak terkecuali negeri kita Indonesia. Sejak awal kemunculannya virus ini perlahan mulai menggerus ketahanan, mulai dari ketahanan diri (imunitas) tubuh hingga ketahanan akan perekonomian masih terus menjadi sumber perhatian.
Nafs adalah perilaku yang dimunculkan atas interaksi bersama qolb dan juga aql. Tidak kah masa pandemi covid ini dijadikan sebuah dasar dari kebaikan yang berasal dari qolb. Qolb mampu merasakan bagaimana pelik dan rumitnya perekonomian saat ini, sementara aql harus mampu memberikan pemahaman dan jalan keluar untuk bisa sedikit memberikan jawaban atas permasalahan yang krusial ini dan nafs adalah kontribusi nyata secara suka rela menyumbangkan tenaga, bahkan sumbangsih berbentuk apapaun terhadap permasalahan dalam sektor perekonomian yang menyerang seluruh warga Negara Indonesia terkhusus kalangan bawah. Bila kita melihat catatan kisah selama pandemi, telah banyak lika-liku perjalanan ini mulai dari maraknya pemutusan hubungan kerja karena tidak beroperasinya beberapa sektor perindustrian, menurunnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang, petani, nelayan maupun penyedia jasa transportasi online. Indonesia memiliki ragam budaya, suku, ras bahkan agama dengan perbedaan yang ada seharusnya menjadi kekuatan agar terus bisa membumikan tauhid sosial dalam pande covid 19 dengan menjadi relawan sosial ataupun aktif dalam menyumbangkan sebagian rezeki yang kita miliki. Tidak kah qolb akan menjadi keras bahkan membatu jikalau kita tidak memiliki sebuah kepekaan terhadap orang lain? Tidak kah kalian bisa merasakan bagaimana kondisi mereka yang rela lapar dan haus karena tak memiliki sepeserpun penghasilan? Akan kah kita tega membiarkan saudara-saudara kita sengsara sementara kita asik menonton kedukaan dan kepedihan kehidupan mereka. Marilah kita bumikan kembali gerakan tauhid sosial ini karena “Keislaman bukan hanya Allah ada di dalam jiwamu tetapi kehidupan Islam menjadi nyata melalui perilakumu.” – KH. Ahmad Dahlan
Salam Pena
Zaranee00
Bidang Hikmah 2019
Daftar Pustaka
El Hafiz, S., 2016. Pengantar Psikologi Kepribadian: Teori-teori Kepribadian dan Kajian Kritis.
       Jakarta: Uhamka Press
Gunawan, Andri., 2018. Teologi Surat Al-Maun dan Praksis Sosial dalam Kehidupan Warga
       Muhammadiyah. Salam, Jurnal Sosial & Budaya Syar’i. FSH Uin Syarif Hidayatullah Jakarta,
       5 (2). 162-163
Isnaeni, Nurlaeli dkk., 2018. Meningkatkan Perilaku Altruisme Pada Siswa Sekolah Menengah
      Pertama (SMP) Melalui Konseling Kelompok. Indonesian Journal of Guidance and Conseling,
      7 (1). 46

Komentar

  1. Suka nih pembahasannya. Lanjutkan teman-teman👌

    BalasHapus
  2. Masya allah Pembahasannya Cukup Menarikk nihhh, Keep Moving teman-teman ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harmoni dalam Komunikasi Organisasi

GEMALI

Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Literasi: Menumbuhkan Budaya Belajar dan Membaca di Era Society 5.0 dalam Konteks IMM