Pengaderan, Perpeloncoan dalam Kemasan Intelektual?
Pengaderan, Perpeloncoan dalam Kemasan Intelektual?
Apa yang terlintas di benak kalian ketika membaca atau mendengar kata “pengaderan”? Untuk sebagian orang mungkin perpeloncoan atau bahkan pembodohan adalah gambaran yang terlintas di benak mereka ketika membaca atau mendengar kata “pengaderan”. Menurut KBBI, pengaderan merupakan suatu proses atau cara untuk mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Kader sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu cadre yang berarti bingkai. Apabila dimaknai secara luas, kader merupakan orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam organisasi, institusi, lembaga, pemerintahan, dan sebagainya. Oleh karena itu pengaderan sering disebut juga jantungnya orgnasisasi, karena melalui pengaderan ini regenerasi yang akan menerima tampuk kepemimpinan selanjutnya dibentuk.
Tiap organisasi pastinya memiliki ideologi dan visi-misi yang berbeda. Begitu pula dengan konsep, metode, dan sebutan yang digunakan untuk mengader dapat berbeda-beda. Karena waktu kegiatan pengaderan terbatas dan hasil yang kita harapkan tidak bersifat temporer, proses untuk merancang kegiatan pengaderan ini melalui waktu yang panjang. Butuh satu sampai dua bulan atau bahkan lebih untuk merancang sebuah kegiatan pengaderan yang sesuai dengan pedoman, kebutuhan kader, konsep, tujuan, bahkan budaya dimana pengaderan itu diadakan.
Melalui pengaderan, kader dikenalkan dan ditanamkan ideologi yang dianut organisasi yang mengadernya. Selain itu, kader juga diberikan materi yang dapat meningkatkan keterampilan mereka. Pemberian materi ini biasanya dilakukan dengan pertimbangan dan disesuaikan dengan kebutuhan kader, konsep, dan tujuan pengaderan itu sendiri. Contohnya adalah pemberian materi kepemimpinan. Karena selama masa pengaderan, kader harus bisa menjadi pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Sehingga setelah pengaderan, jiwa kepemimpinan kader meningkat dan kader pun dapat memimpin dirinya sendiri maupun kelompoknya.
Beberapa organisasi menerapkan pembinaan mental dalam pengaderan. Namun ada yang salah mengartikannya sebagai perpeloncoan. Perpeloncoan sendiri menurut KBBI berarti menjadikan seseorang tabah dan terlatih serta mengenal dan menghayati situasi di lingkungan baru dengan penggemblengan. Penggemblengan ini dapat berupa praktik ritual berdasarkan budaya dan aktivitas lain yang melibatkan pelecehan, penyiksaan, atau penghinaan. Sedangkan pembinaan mental merupakan upaya yang dilakukan secara sadar, terrencana, teratur, terarah, dengan tujuan yang jelas. Tujuannya dapat berupa mengembangkan penalaran, sifat dan sikap, serta motivasi kadernya mengikuti pengaderan ini. Metodenya dapat dengan memberikan pengarahan, bimbingan, maupun pengawasan.
Tujuan antara pengaderan dan perpeloncoan mungkin sama-sama mendidik, tetapi caranya jelas berbeda dan output yang akan dihasilkan pun pasti berbeda. Perencanaan dari perpeloncoan mungkin sebentar karena hanya berdasarkan ritual, tetapi dampaknya pada psikis bisa permanen dan pada akhirnya tidak ada pembelajaran yang didapat oleh kader. Sedangkan dengan pengaderan, kader mungkin tidak dapat merasakan manfaatnya dari pembelajarannya saat itu juga, tetapi ia dapat merasakannya di kemudian hari. Karena pengaderan adalah proses pembelajaran seumur hidup, jangan samakan pengaderan dengan perpeloncoan.
Zaster, Kader 2019
referensi :
file.upi.edu › Direktori › FPOKPDF
PELAKSANAAN PEMBINAAN MENTAL Pembinaan mental ... - Direktori File UPI (diakses pada tanggal 28 Desember 2019)
Apa yang terlintas di benak kalian ketika membaca atau mendengar kata “pengaderan”? Untuk sebagian orang mungkin perpeloncoan atau bahkan pembodohan adalah gambaran yang terlintas di benak mereka ketika membaca atau mendengar kata “pengaderan”. Menurut KBBI, pengaderan merupakan suatu proses atau cara untuk mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Kader sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu cadre yang berarti bingkai. Apabila dimaknai secara luas, kader merupakan orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam organisasi, institusi, lembaga, pemerintahan, dan sebagainya. Oleh karena itu pengaderan sering disebut juga jantungnya orgnasisasi, karena melalui pengaderan ini regenerasi yang akan menerima tampuk kepemimpinan selanjutnya dibentuk.
Tiap organisasi pastinya memiliki ideologi dan visi-misi yang berbeda. Begitu pula dengan konsep, metode, dan sebutan yang digunakan untuk mengader dapat berbeda-beda. Karena waktu kegiatan pengaderan terbatas dan hasil yang kita harapkan tidak bersifat temporer, proses untuk merancang kegiatan pengaderan ini melalui waktu yang panjang. Butuh satu sampai dua bulan atau bahkan lebih untuk merancang sebuah kegiatan pengaderan yang sesuai dengan pedoman, kebutuhan kader, konsep, tujuan, bahkan budaya dimana pengaderan itu diadakan.
Melalui pengaderan, kader dikenalkan dan ditanamkan ideologi yang dianut organisasi yang mengadernya. Selain itu, kader juga diberikan materi yang dapat meningkatkan keterampilan mereka. Pemberian materi ini biasanya dilakukan dengan pertimbangan dan disesuaikan dengan kebutuhan kader, konsep, dan tujuan pengaderan itu sendiri. Contohnya adalah pemberian materi kepemimpinan. Karena selama masa pengaderan, kader harus bisa menjadi pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Sehingga setelah pengaderan, jiwa kepemimpinan kader meningkat dan kader pun dapat memimpin dirinya sendiri maupun kelompoknya.
Beberapa organisasi menerapkan pembinaan mental dalam pengaderan. Namun ada yang salah mengartikannya sebagai perpeloncoan. Perpeloncoan sendiri menurut KBBI berarti menjadikan seseorang tabah dan terlatih serta mengenal dan menghayati situasi di lingkungan baru dengan penggemblengan. Penggemblengan ini dapat berupa praktik ritual berdasarkan budaya dan aktivitas lain yang melibatkan pelecehan, penyiksaan, atau penghinaan. Sedangkan pembinaan mental merupakan upaya yang dilakukan secara sadar, terrencana, teratur, terarah, dengan tujuan yang jelas. Tujuannya dapat berupa mengembangkan penalaran, sifat dan sikap, serta motivasi kadernya mengikuti pengaderan ini. Metodenya dapat dengan memberikan pengarahan, bimbingan, maupun pengawasan.
Tujuan antara pengaderan dan perpeloncoan mungkin sama-sama mendidik, tetapi caranya jelas berbeda dan output yang akan dihasilkan pun pasti berbeda. Perencanaan dari perpeloncoan mungkin sebentar karena hanya berdasarkan ritual, tetapi dampaknya pada psikis bisa permanen dan pada akhirnya tidak ada pembelajaran yang didapat oleh kader. Sedangkan dengan pengaderan, kader mungkin tidak dapat merasakan manfaatnya dari pembelajarannya saat itu juga, tetapi ia dapat merasakannya di kemudian hari. Karena pengaderan adalah proses pembelajaran seumur hidup, jangan samakan pengaderan dengan perpeloncoan.
Zaster, Kader 2019
referensi :
file.upi.edu › Direktori › FPOKPDF
PELAKSANAAN PEMBINAAN MENTAL Pembinaan mental ... - Direktori File UPI (diakses pada tanggal 28 Desember 2019)
Komentar
Posting Komentar