The ancient religion - part 2

People of Zoroastrianism and the Prophet of Zarahustra



Asalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

                Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah. Telah berabad-abad lamanya manusia hidup dalam pelukan ajaran agama. Demi mencari kedamaian yang sejati dan hakiki, banyak manusia yang taat, patuh serta yakin terhadap agama yang dianut masing-masing adalah benar adanya, sebagai contoh agama islam, tentu kita sebagai umat islam pasti berusaha untuk taat mengerjakan aturan-aturan yang ada dalam agama tersebut, begitu juga dengan umat beragama lain misalnya kristen atau hindu atau yahudi atau apapun.

Agama di dunia ini terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu, agama ciptaan manusia sendiri lewat budaya dan kebiasaanya, bisa kita sebut itu sebagai agama bumi (ardi), dan yang kedua adalah agama langit yang mana agama ini adalah ciptaan Tuhan yang turun lewat perantara wahyu sehingga agama ciptaan Tuhan ini bisa disebut dengan agama samawi.

Salah satu agama samawi yang pernah ada di bumi (dan mungkin saat ini masih ada) adalah zoroasterianisme. Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas kepercayaan mesir kuno yang menyembah banyak dewa, topik yang akan dibahas dalam artikel ini adalah tentang agama zoroastrianisme yang dibawakan oleh seorang nabi dan tentu nabi ini tidak tercantum dalam 25 nabi ajaran agama islam yaitu nabi Zarahustra.

Selamat membaca
----


A. Sosok nabi Zarahustra

                Zarahustra lahir pada tahun 660 SM di negara Iran tepatnya di provinsi Azarbaijan dan wafat pada tahun 583 SM pada usia 77 tahun. Ayahnya bernama Porushop dan ibunya bernama Dughdova yang mereka berasal dari suku Spitama, pasangan ini melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Zarahustra.


                                                                                          Gambar : Zarahustra



Pada usia 7 tahun, Zarahustra sudah mendapatkan pelajaran ilmu-ilmu keagamaan lewat pendeta-pendeta secara lisan karena pada saat itu belum mengenal sistem tulisan tangan. Pada saat itu masyarakat Persia kuno masih menganut kepercayaan politeisme animisme, mereka menyembah kekuatan-kekuatan alam sepeti badai, gelombang laut, gerhana, gempa bumi dan lain-lain. Pelajaran-pelajaran yang diterima oleh Zarahustra menyangkut tentang cara peribadatan, nyanyian-nyanyian menyembah dewa kekuatan alam, serta hapalan doa-doa (mantra). Selanjutnya di usia 15 tahun Zarahustra sudah diangkat menjadi seorang pendeta.

Pada umur 20 tahun, Zarahustra mulai gemar mengembara (bertafakur) ke tempat-tempat yang jauh, dia menitikberatkan pada perjuangan hidupnya untuk berbuat baik, menyayangi sesama manusia, menolong tanpa pamrih, menyayangi hewan dan tumbuhan, menolong fakir miskin dan lain-lain. Pada umurnya yang ke-30 dia mulai menerima wahyu untuk pertama kalinya, yang disampaikan melalui perantara Vehu Mano atau mahluk suci yang datang dari sisi Tuhan, Zarahustra diminta untuk menghadap kepada sang pencipta alam sebagai tanda bukti atas kenabiannya.

Selama 10 tahun Zarahustra menerima wahyu dan mengemban gelar kenabiannya, dia selalu mendapat perlawanan dari berbahai pihak. Banyak orang yang tak percaya padanya, tetapi dia selalu menang, dia tetap patuh menjalankan agamanya yang pada akhirnya agama tersebut menyabar luas di Persia sampai ke India lalu dikenal sebagai agama Zoroaster atau umat islam sering menyebutnya sebagai Majusi.

Dari uraian singkat diatas, jelas memperlihatkan bahwa agama Zoroaster merupakan agama samawi, karena melibatkan kehadiran Vehu Mano yang datang dari Tuhan. Agama Zoroaster juga merupakan salah satu agama samawi tertua bekembang sejak abad ke-6 sebelum masehi sampai abad ke-7 masehi  yang pada nyatanya hingga kini masih ada pemeluknya yang tersebar di timur tengah dari Iran sampai ke utara India.



                                                                gambar : peta persebaran peradaban persia kuno

Dikisahkan pada suatu hari, Zarahustra sedang berada di sebuah perkumpulan masyarakat, lalu ia pergi ke sebuah sungai pada waktu subuh hendak menimba air untuk kepentingan perayaan musim semi upacara Haoma. Tiba di sungai, ia melihat Vehu Mano yang wujud rerupanya seperti bayang-bayang bercahaya putih bersih, yang kemudian Zarahustra dibawa olehnya ke hadapan Ahura Mazda sang pencipta alam untuk menerima wahyu. Pada saat itu Zarahustra tak dapat melihat bayangan tubuhnya sendiri karena pancaran sinar sang Ahura Mazda yang terang benderang.

Agama yang diajarkan oleh Zarahustra adalah Zoroaster, namun Zarahustra sendiri menamainya dengan sebutan Mazdayasna yang memiliki arti “kembali kepada Ahura Mazda, kebaktian kepada Tuhan yang maha esa yaitu Ahura Mazda”.


                                                                         gambar : simbol agama Zoroaster

B. Ajaran pokok agama Zoroaster.

Pada dasarnya agama Zoroaster berpandangan bahwa Tuhan itu esa, jelas sekali bila seperti ini menggambarkan bahwa agama Zoroaster memiliki pandangan monotheisme, yaitu Ahura Mazda yang memiliki sifat-sifat seperti, maha penyayang, maha kuasa, maha pencipta, dan maha maha yang lainnya. Agama Zoroaster memiliki sebuah kitab yang bernama Zebdawesta. Pada awalnya, Zebdawesta ditulis tangan dengan huruf-huruf Zend, namun pada zaman pemerintah Daulah Bani Sasan (dinasti sasanid 218-635 SM) Zebdawesta diterjemahkan kedalam bahasa Pahlevi dan berubah namanya menjadi kitab Avesta. Dengan alasan bahasa Zend itu sulit dibaca dan sulit dimengerti, itu sebabnya mengapa kitab ini diberinama Zebdawesta yang memiliki arti “perundang-undangan yang ditambahkan fasir”. Isi dari Zebdawesta terdiri dari empat bagian yaitu :

-          Yashna : berisi tentang doa-doa dan tatacara peribadatan
-          Visparat : berisi tentang kalimat pujian-pujian kepada Ahura Mazda dan nyanyian-nyanyian suci
-          Vivedat : berisi peraturan ritual keagamaan
-          Khode Avesta : berisi tentang perundang-undangan agama dan kepahlawanan

Menurut penuturan masyarakat yang mengenaut agama Zoroaster, kitab mereka sebenarnya sudah dibakar oleh raja Iskandar Agung di Persepolis, tapi tidak semuanya musnah terbakar. Pada tahun 256 SM, pada pemerintahan raja-raja Parthia, raja Walkasch memerintahkan kepada para pendeta untuk melakukan penghafalan.

Menurut penyelidikan para sarjana kini, kitab Zebdawesta tidak sepenuhnya merupakan tulisan Zarahustra, namun merupakan campuran dari tulisan para pengikutnya sekitar dua atau tiga abad setelah kenabian Zarahustra.

Adapun ajaran pokok yang terkandung dalam Zebdawesta adalah

1. Tuhan dan penciptaan.

Dengan mengetahui sejarah kehidupannya, Zarahustra dianggap sebagai tokoh pembaharu bagi agama-agama tradisional yang berkembang di masyarakat saat ini. Meskipun Zarahustra adalah seorang putra Iran yang dibesarkan dengan ajaran agama dan tradisi lama masyarakat persia kuno, ia merasa tidak puas dengan praktek-praktek keagaaman yang dilakukan oleh pemimpin agama pada saat itu, yang dianggapnya telah menyeleweng dan menyesatkan masyarakat.

Menurut profesor Dr. Ali Abdul Wahid Wafi, seorang sejarawan muslim konteporen, beliau menyatakan bahwa. Zarahustra menyerukan agama yang meyakini bahwa Tuhan itu tunggal, agama monotheisme, menyambah kepada Ahura Mazda, baik berupa esensinya (ruh) atau pun materinya (maddah). Sosok Ahura Mazda adalah sosok yang suci, tak diketahui wujudnya seperti apa dan tak mampu ditangkap oleh pancaindra.

Dzat Ahura Mazda dapat dirumaskan dalam dua poin penting, yang pertama Ahura Mazda bersifat transenden (samawi) yang dapat disimbolkan dengan matahari, yang kedua Ahura Mazda juga bersifat imanen (ardi) yang dapat disimbolkan dengan api. Keduanya merupakan sumber cahaya, sama-sama memberikan penerangan dan tak terkonatminasi oleh hal-hal kerusakan apa pun, suci, bersih dan hangat. Kepada cahayalah semua kehidupan di dunia akan kembali. Sifat-sifat seperti inilah yang paling mendekati akal manusia untuk menggambarkan sosok Tuhan, sosok Ahura Mazda. Para penganut agama Zoroaster sangat mensucikan api, inilah yang pada akhirnya menggeser nilai monotheisme Zoroaster menjadi paganisme, agama ini pun berubah menjadi panteisme karna api itu sendiri berubah fungsinya yang tadinya hanya merupakan sarana bagi mereka untuk terhubung dengan Ahura Mazda namun kini menganggap bahwa api adalah Ahura Mazda itu sendiri.

Pada awalnya ajaran Zoroaster menganggap bahwa ada dua kekuatan besar yang saling bertentangan dan mempengaruhi kehidupan di dunia, yaitu kekuatan kebaikan Ahura Mazda dan kekuatan kejahatan Ahriman atau syetan.

Menurut pendapat Asy-Shyahrastani, bahwa Tuhan itu satu, tunggal, tak ada sekutu lawan baginya, namun pengikut agama Zoroaster meninggalkan pandangan ini, bagi mereka dunia tercipta atas pergulatan abadi antara Ahura Mazda dan Ahriman namun akan dimenangkan oleh cahaya kebaikan yaitu cahaya Ahura Mazda.

2. Manusia.

Dalam kitab yang berjudul “Kitab nasihat Zartusht” (Nasihat Pilihan dari para Bijak Bestari Zaman Dulu). Menjelaskan konsep bahwa manusia awalnya adalah wujud gaib dan roh manusia dalam bentuk Fravahr (Fravashi), hadir sebelum jasmaninya tercipta. Baik jasad atau roh manusia adalah ciptaan Ahura Mazda, dan roh tersebut tidak bersifat abadi dan kelak akan rusak (mengalami kematian). Manusia adalah ciptaan Ahura Mazda dan akan kembali kepadanya. Sementara Ahriman adalah syetan yang menentang perintah Ahura Mazda. Di dunia, manusia bebas memilih antara kebaikan atau keburukan, barang siapa yang memilih kebaikan dan mengikuti perintah Ahura Mazda, maka ia akan mendapat kenikmatan surga di akhirat, namun sebaliknya bila mengikuti Ahriman memilih sisi kejahatan maka ia akan mendapat siksa di neraka. Menurut pendapat As-Syahtastani yang mengatakan “ditengah pergulatan antara Ahriman dan Ahura Mazda, manusia bertugas untuk senantiasa membantu Ahura Mazda dengan memilih jalan kebaikan, diwujudkan dengan selalu berbuat amal saleh, menerapkan hukum yang berlaku, dan mengutuk Ahriman sang syetan untuk selamanya dipenjara di neraka”.

Menurut agama Zoroaster, manusia berperan untuk bekerjasama dengan alam dalam menjalani kehidupan yang saleh di dunia, saleh dalam berpikiran, bertuturkata, dan perbuatan. Manusia memiliki kewajiban untuk menikah, bersuami-istri, memiliki keturunan karena dengan semakin banyak manusia maka akan semakin mudah untuk melawan Ahriman.

3. Etika.

Sebagian besar ajaran agama Zoroaster menyangkut masalah etika. Dasar pikiran teologisnya adalah pandangan moralistik tentang kehidupan. Kenyataan yang kita hadapi dan tidak bisa dihindari adalah kejelekan manusia (ketidaksempurnaan sifat manusia). Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, makadari itu manusia patut mematuhi moral dan meneguhkan prinsip baik adalah baik dan jelek adalah jelek.  Moralitas agama Zoroaster diungkapkan dalam tiga kata yaitu humat, huklit dan huvarsht yang memiliki arti, pikiran baik, perkataan baik dan perbuatan baik.

4. kematian.

Pengikut agama Zoroaster tidak memperbolehkan penguburan jenasah dan pembakaran, sebab hal itu dipercaya akan menodai unsur air, bumi, udara dan api. Setiap upacara kematian akan dipimpin oleh pendeta diselenggarakan didalam sebuah kuil utama, kuil yang paling besar yang bernama kuil Bachram.

Pada penyelenggaraan ritual kematian, pengikut agama Zoroaster akan menempatkan mayat didalam sebuah menara yang tinggi bernama Dakhma, tower of silence. Didalam dakhma, mayat tidak diletakan begitu saja, ada pembagian antara jenasah laki-laki, perempuan dan anak-anak. Adapaun rangkaian penempatan mayat didalam dakhma dalam sebagai berikut

      Pertama jenasah akan dibacakan doa didalam kuil bachram,  dipimpin oleh seorang pendeta, jenasah tersebut akan disucikan dengan doa-doa tersebut.  Kedua, jenasah akan ditempatkan didalam sebuah ruangan berbentuk kubah selama tiga hari.setelah tiga hari jenasah disimpan didalam ruangan itu maka jenasah diperbolahkan untuk dipindahkan kedalam dakma. Didalam dakma, jenasah akan dibuka pakaiannya dan diletakan sesuai pembagian-pembagian tempatnya . jenasah tersebut akan dibarikan ditempat yang terbuka luas diatas dakma, dengan tujuan agar jenasah tersebut habis dimakan burung gagak. setelah jenasah tersebut, habis dan menyisakan kerangkanya saja, maka kerangka tersebut akan dibuang kedalam sumur yang berada di tengah dakma.


                                                                           gambar : dakhma, the tower of silence


                                                            gambar : dua orang sedang berjalan menuju dakhma

6. hari kebangkitan dan kiamat.

Menurut ajaran agama Zoroaster, hari kiamat itu pasti akan terjadi. pada hari iytu manusia akan dibangkitkan kembali untuk menerima hasil perbuatannya yang pernah dilakukan didunia. Amal manusia akan ditimbang dengan cara mereka akan melewati sebuah jembatan bernama Civant, yang dibawahnya terdapat neraka yang menyala. Bila orang teresebut lebih berat kepada kejahatannya maka orang tersebut tidak akan seimbang saat menyebrangi Civant dan jatuh ke neraka, sementara orang yang baik yang selalu berbuat kebaikan, maka akan tetap seimbang dan selamat melewati Civant.

Pada hari kiamat itu, Ahriman akan dijebloskan kedalam neraka, berikut dengan orang-orang yang berbuat jahat selama masih didunia. 

7. akhlak.

Mengenai tentang akhalak, agama Zoroaster mengharuskan pengikutnya untuk

a. Orang harus menyembah Ahura Mazda, pengikut Zarahustra harus setia kepada hukum undang-undang Ahura Mazda yang tertulis dalam Zebdawesta, dan memberikan korban sebagai sajian serta melakukan amal-amal saleh yang lainnya.

b. harus memiliki pikiran yang baik, pola pikir yang lurus, cita-cita yang baik. bertutur kata yang sopan dan berperilaku terpuji.

c. dosa yang dimiliki manusia, akan membawa manusia itu kedalam siksaan yang pedih di neraka, oleh karena itu, sebagai manusia, agama zoroaster mewajibkan untk segera mengakui dosa-dosa yang diperbuat dan bertaubat. Bertaubat dalam agama zoroaster adalah dengan membaca mantra-mantra dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, lalu di tutup dengan perilaku kebaikan yang harus dilaksanakan.

C. perkembangan agama Zoroaster.

Setelah Zarahustra menerima wahyu dari Tuhan, ia pun menyebarkan ajarannya di persia utara, tempat kelahirannya, selama 10 tahun ia berdakwah di persia utara ia hanya memiliki satu pengikut saja yaitu saudaranya sendiri yang bernama Maidhyoimanha, dia selalu mendapat perlawanan dari masyarakat, ejekan dan penghinaan salu ia terima setiap saat namun ia selalu menghadapinya dengan tabah dan sabar serta terus melakukan perintah Ahura Mazda. Maka dikisahkan pada suatu malam setelah genap 12 tahun kenabiannya, Zarahustra tengah berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan, dan ia mendapat perintah untuk pergi dari persia utara, hijrah ke timur, melewati Seista sampai ke Bactria yang dipimpin oleh raja Vishtaspa.

Raja Vishtaspa dikenal juga dengan sebutan king Hystaspes, berasal dari keluarga Hakkham, dan memiliki cucu yang dikenal sebagai Cyrus the Great (559-529 SM). Pada saat itu Cyrus the great berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di seluruh Iran dan membangun dinasti Hakkham, yang dikenal sebagai Achaemenids Dynasty.

King Hystaspes menyambut dan menerima Zarahustra dengan ramah. Ia mengajarkan risalah-risalahnya dan filsafat agama Zoroaster kepada raja terutama tentang pemikirannya bahwa perubahan bangsa dan bahasa tidak akan mampu mencapai inti dari konsep agama dan ketuhanan, yang ada hanya nama tuhan itulah yang berbeda-beda sebutannya di berbagai daerah sesuai yang diinginkan. Tiap-tiap bangsa menyebut nama tuhan yang berbeda sesuai dengan apa yang diinginkan dan budaya berlaku bagi bangsa itu. Dalam suatu riwayat menyatakan bahwa Zarahustra sering menunjukan mukjizatnya kepada sang raja, salah satunya adalah menyembuhkan orang buta, Zarahustra meminta untuk diambilkan sejenis rumput, lalu dari rumput itu dia meneteskan perasaan airnya ke mata si buta tersebut, seketika ia pun bisa melihat kembali. Mukjizat lain yang dimiliki Zarahustra adala membuat sebuah bola dengan sempurna tanpa bantuan alat apa pun, yang mana hal itu mustahil dilakukan bila tidak memakai alat.

Didalam agama Zoroaster sendiri pun terdapat 3 aliran besar yaitu
a. Aliran Manu
b. Aliran Madzdak
c. Aliran Zindiq

Menurut aliran manu, sesungguhnya seluruh kehidupan ini adalah kebaikan. Karena pada akhirnya semua akan kembali kepada Tuhan dan Tuhan akan memerangi kejahatan. Maka dari itu manusia dianjurkan untuk tetap berbuat baik agar kejahatan di dunia semakin berkurang. Bagi aliran manu, munculnya kebaikan dan kejahatan di dunia ini adalah manifestasi dari bertambahnya jumlah manusia, maka dari itu dianjurkan bagi para pengikut aliran manu untuk tidak melakukan pernikahan demi memutus mata rantai peseteruan antara kebaikan dan keburukan.

Menurut aliran madzdak, aliran ini lebih mengarah kepada ajaran Zoroaster murni yang mana mereka mempercayai adanya dua kekuatan yang bertentangan Ahura Mazda dan Ahriman. Namun mereka men-tuhan-kan dua kekuatan ini, maka dari itu mereka sangat mensucikan api sebagai tanda mereka memuja Ahura Mazda namun mereka juga menyembah berhala sebagai pemujaan terhadap Ahriman.
Menurut aliran Zindiq, bahwasanya, pengikut aliran zindiq tidak percaya kepa Ahura Mazda, mereka cenderung lebih atheis karena percaya bahwa alam semesta tercipta dengan sendirinya, dan akan terus berputar danpa pernah berhenti sampai kapan pun. Sementara untuk kebaikan dan keburukan, menurut aliran Zindiq bahwa sebenarnya kebaikan dan keburukan adalah perbuatan manusia sendiri. Manusia berusaha memerangi keburukan (memerangi Ahriman) dalam dirinya sendiri dan berusaha memunculkan sifat baik (memunculkan Ahura Mazda) yang terpendam. Fungsi Tuhan dan syetan dalam kehidupan manusia hanya sebatas itu.

----

Para penganut agama Zoroaster, sudah memiliki keimanan sendiri. Mereka beriman dengan iman mereka dan menerima ajaran Zarahustra, dapat dikatan mereka sudah mengenal arti ketuhanan yang sifatnya lebih metafisis dan abstraksi namun mereka masih keliru dalam banyak hal peribadatan dan aqidah. Seperti yang tertulis diatas, bahwa mereka membiarkan jenasah sanak keluarga mereka habis dimakan burung, lalu membuang kerangnyanya kedalam sumur yang besar. Bukan kah itu sesuatu yang cukup mengerikan?. Kita sebagai muslim tentu tidak ingin melakukan itu kan?.

Inilah bukti bahwa hanya Nabi Muhammad yang memberikan ajaran yang benar kepada segenap manusia, ajaran-ajarannya sesuai dengan perkembangan zaman dan hukum moral ciptaan manusia, hingga akhirnya bisa diterima oleh khayalak masyarakat yang ingin mencari kedamaian yang sejati lewat agama yang dibawa Nabi Muhammad yaitu Al-Islam.

Wallahualam…

Sumber : Jurnal Rihlah vol. III no 1 Oktober 2015 (Nurlidiawati) sejarah agama-agama (studi historis tentang agama kuno masa lampau).

Penulis : Armadhana

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harmoni dalam Komunikasi Organisasi

GEMALI

Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Literasi: Menumbuhkan Budaya Belajar dan Membaca di Era Society 5.0 dalam Konteks IMM