Ini tentang hari ibu. Apakah Islam mengajarkan hari ibu?



            Hari ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarga. Peringatan hari ibu biasanya dirayakan dengan membebas-tugaskan ibu dari rutinitas sehari-hari seperti memasak, membereskan rumah, mengurus anak dan lain-lain. Sebaliknya tugas-tugas seperti itu dilakukan oleh anggota keluarga lain, anak yang sudah beranjak besar atau ayah. Di Indonesia perayaan hari ibu jatuh pada tanggal 22 Desember.

Namun yang jadi pertanyaannya… apakah dalam islam mengajarkan perayaan hari ibu?

Memang.. berbakti pada ibu adalah hal yang paling utama, tapi haruskah ada tanggal tertentu jika kita ingin berbakti pada ibu? Jawabannya adalah sudah pasti tidak. Kita bisa berbakti pada ibu kapan saja dimana saja alias setiap saat! termasuk pada tanggal 22 Desember itu.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran surah Lukman ayat 14 :

“Dan kami perintahkan pada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu” (QS : Lukman, 14)

Perintah “berbuat baik” disini bukan hanya dilakukan pada tanggal tertentu saja, tapi setiap waktu. Ibu telah mengandung kita selama 9 bulan dan telah menyapih kita selama 2 tahun, lantas patutkah kita untuk membalas jasanya yang selama itu hanya dengan satu hari satu tahun saja? tentu tidak kan?? Maka dari itu, islam tidak mengajarkan kita untuk merayakan hari ibu.

Hadis riwayat An Nasa’i mengatakan :

“orang-orang Jahiliyah dulu memiliki dua hari (yaitu hari Nairuz dan Mihrajan) disetiap tahun yang mereka bersenang-senang saat merayakannya. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau berkata ‘Dulu kalian punya dua hari untuk bersenang-senang didalamnya. Sekarang Allah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu Idul Fitri dan Idul Adha’”(HR An Nasa’i no 1557).

Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud no 4031).

Perayaan hari ibu jelas merupakan perayaan yang dilakukan oleh orang non muslim, dan kita sepatutnya tidak merayakannya juga, karna sesuai dengan hadis diatas bahwa kita adalah termasuk bagian dari orang non muslim jika kita ikut merayakannya.

jadi sekarang... apakah kita masih mau ikut-ikutan dengan budaya non muslim yang merayakan hari ibu?

Surga di telapak kaki ibu
Itulah hadis Nabi Muhammad
Jangan durhaka pada ibunya
Di Akhirat mendapat siksa ~ “Surga di telapak kaki ibu- Dea Ananda”

Penulis : Armadhana

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harmoni dalam Komunikasi Organisasi

GEMALI

Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Literasi: Menumbuhkan Budaya Belajar dan Membaca di Era Society 5.0 dalam Konteks IMM